Belum Tiba Waktunya

Dirumahku yang super besar, dipenuhi warna hijau muda yang begitu menyegarkan di mata tampak sepi dengan dipenuhi bunga-bunga segar dan harumnya membuat hidung bagai menari-nari diatas awan. Yups..Bundaku suka sekali dengan warna-warna hijau, dari pagar berwarna hijau sampai peralatan dapur pun bernuansa hijau. Ingatanku yang dipenuhi dengan benda-benda yang bernuansa hijau langsung memudar tatkala Bunda memanggilku dari kejauhan.

” La, kamu hari ini ada acara nggak? ” tanya Bunda padaku ” Nggak ada acara kok,Bun. Lila pengen di rumah aja,biasa surfing internet hehe” “
” Surfing itu di laut, ini kok di internet? awas ya kalo kamu lama-lama pakai internetnya, cari uang susah, neng. Ayahmu tuh suka complain ke Bunda, ngurus anak satu aja keras kepalanya minta ampun.
” Iya deh, bun. nggak lama kok. paling 10 jam, jawabku “
” Lilaaaaa….
” Hehehe….jangan sensi begitu dong, bun. o iya, Bunda kenapa tanya aku ada acara segala, emang Bunda mau ngajak aku nge-date?
” Temenin bunda beli hp di ITC Kenanga, hp Bunda udah beberapa kali di servis, takut rusak lagi, yaa Bunda pengen beli yang baru.
‘ Duh…Bunda makanya punya HP tuh dipake, kemarin ngapain dipake buat ulekan, candaku”
” Si neng nih, nggak liat Bunda lagi pusing apa, udah kamu siap-siap ganti baju, seru Bunda. Bunda suka banget manggil aku neng.
mumpung ayahmu lagi dinas, nanti temenin bunda liat baju ya, neng”
“Ok, bos!
Siang ini udah nunjukkin pukul 13.17, perutku yang sudah lama menunggu jatah makan tiba, udah melayangkan surat peringatan yang isinya…”kapan makan? kapaaan?
aku protes nih sana Bunda, masa’ jam segini kita belum makan juga, Bunda nggak laper ya? tanyaku sedikit kesal.
” biasanya juga kamu makan jam segini kan? lagian kamu belum dapat apa-apa dari tadi, jawab Bunda.
“Nggak tau nih, Bun. tumben nih aku sudah lapar, sekarang kita ke food court, yuk, Bun, ajakku.”
“Ya, udah kasian si eneng.
Sesampainya di food court, aku agak pusing melihat banyaknya orang-orang yang makan di food court ini, padahal di food court ITC Kenanga ini termasuk yang terbesar di Jakarta, aku nggak nyaman aja dengan banyaknya orang-orang yang menumpuk ini. ya..demi Bunda, aku rela makan di food court ini, meski kelihatannya repot, soalnya nggak sedikit bekas tempat minuman yang tumpah.
“La, kamu pesan makanan kesukaan Bunda sana..
“Mie Aceh, kan Bun..sip deh, sebentar ya, Bun.
Nggak berapa lama, aku kembali ke tempat dudukku..
“La, kamu kenapa kelihatannya dari tadi bete aja, awas tuh bibirmu jatuh, canda Bunda.
” Ah, Bunda..memangnya mangga apa jatuh, Lila bete nih,bun, kataku.
“Bete kenapa, cerita donk sama Bunda.
Sebenarnya aku nggak mau sih cerita sama Bunda, aku biasa curhat sama sobatku, Dira, dia teman yang mengerti akan diriku,dan setiap ada masalah dia punya solusinya buatku, kalo sama Bunda kadang aku malu tp Bundaku selalu kasih aku semangat untuk terus belajar, belajar dan belajar.
” Gak, Bun. Aku bete aja, kemarin hari jumat, temanku Reva dijemput sama cowoknya, Reva tampangnya biasa aja tapi kok bisa sih dapetin cowok yang ganteng gitu, sedangkan aku yang cantik ini udah lama ngejomblo, padahal umurku udah 17 tahun, dimana-mana cewek yang umurnya udah 17 tahun pasti udah punya cowok kan, Bun ?
“oh, itu..ck..ck kirain kenapa si eneng ini, kamu itu belum waktunya untuk dapat pacar sekarang ini, lihat positifnya,kamu selalu dapat ranking 3 besar, ayah bunda sayang sama kamu, kamu itu anak satu-satunya, ayah bunda nggak mau sedih cuma gara-gara kamu belum dapat pacar. yang penting sekolah dulu, bahagiain orang tuamu ini, ok, neng,  tegas Bunda seraya mengelus rambutku yang panjang ini.
“Tuh, makanannya udah datang, udah ya, neng, jangan bete-bete lagi”, hibur Bunda. nanti setelah makan, kita mampir ke toko buku. itu masih kesukaanmu, kan neng”.
” Iya, Bun. makasih ya, Bun…
Walaupun udah sore, semangat Bunda masih membara, sedangkan aku masih dengan kebosenan yang luar biasa, nggak tau kenapa aku pengen banget curhat sama Dira, sobatku semasa aku SD. Sebenarnya aku nggak mau keluar hari ini, malam minggu, males aja keluar2 malem minggu gini, Cuma ngeliatin cewek n cowok yang lagi pacaran. Liat aja, kebanyakan dari mereka nggak mau lepas dari gandengan. “Takut digondol orang ya, mas pacarnya, gumamku”. Saking cintanya pada Bunda, aku rela nemenin beliau, siapa lagi kan anaknya selain aku, Delila Calista.
Kami berdua pun melangkah kaki melalui eskalator ke toko buku yang terletak di lantai 2. setelah kami sebelumnya berada di foodcourt lantai 5, toko buku Media Ilmu ini lumayan besar tapi hanya sedikit pengunjung yang mampir ke toko buku ini. Coba pengunjungnya seperti aku, yang hobi melanglang buana ke toko buku di Jakarta, pasti penuh.
Bunda mulai melongok buku-buku masakan, sementara kakiku menuju rak novel. Akupun memutuskan untuk berpisah sementara dengan Bundaku.
Dari jarak nggak jauh dariku, aku melihat sosok cowok, lumayan siy manis-manis gimana gitu, tinggi, rambutnya cepak, badannya lumayan berisi. Dia bakal nyampering nggak ya..ya paling nggak kayak di film2 gitu deh hehe..hmm Lila..Lila.. pikiran lo..jauuuh..sinetron aja yang ditonton..
“Tuh kan gak nyamperin, kesalku”. Kayaknya aku jauh dari keberuntungan deh. Dan cowok itu pun berlalu..
Senin ini saatnya aku mempersiapkan diri untuk menghadapi ulangan matematika, salah satu pelajaran yang aku suka karena selain gurunya ganteng, namanya Pak Darma. Dia mengajar dengan telaten, sungguh guru yang teladan Pak Darma itu. Kalau anak didiknya nggak ngerti, dengan penuh kesabaran beliau menjelaskannya dengan detail. Suatu ketika temanku, Wisnu, nggak ngerti apa yang dijelasin Pak Darma, terus Pak Darma nggak sungkan untuk ngajak anak didiknya ke rumah alias private. Kita juga senang dengan itu, dengan begitu semua anak didiknya mengerti dan senang akan pelajaran matematika. Apalagi Pak Darma terkenal dengan keramahtamahan dan mengayomi semua anak-anak didiknya.
“Akhirnya selesai juga..”. selesainya ulangan matematika, aku pengen banget curhat sama Dira. Saying dia beda kelas denganku. Tapi buatku nggak masalah. Yang penting waktu pulangs ekolahnya bareng.
“itu dia Dira! Teriakku”. Aku girang berasa nggak ketemu pacar 3 tahun aja hehe “.
“Dir ! teriakku “
“Eh..Siapa? Lila ya..sambil mengernyitkan kening yang bingung siapa itu yang memanggil karena biasanya Dira memakai kacamata. Waktu itu kulihat dia tidak memakai kacamata min 6 nya.
“Duh Dira yang chubby. Kamu lupa ya pake kacamata? Tanyaku”.
“Bukan lupa tau, aku sengaja ngga pake kacamata. Soalnya aku lagi pengobatan mata gitu deh, jawab Dira sambil megucek2 mata yang sepertinya ada sesuatu yang masuk ke dalam matanya.
“emang kemanain kacamatamu”
“Aku kemaren periksa mata jadi berkurang satu, kan aku nggak punya cadangan kacamata lagi. “
“Dir, kenapa ya aku kayaknya jauh dari keberuntungan. Sial mulu gitu. Temen-temen cowok nggak ada yang deket. Padahal kan seharusnya aku dah punya cowok. Aku juga nggak jelek-jelek amat kan, Dir? Terus juga aku nggak punya saudara. Dirumah aku sering bete, nggak ada temen ngobrol. Ayah Bunda aku kerja kantoran, pokoknya banyak deh Dir, Aku nggak beruntung, nggak kayak kamu, kamu punya cowok walau long distance, trus punya kakak banyak lagi.”
“Belum tiba waktunya kali, Lil” suatu saat pasti kamu punya cowok. Kita kan nggak tau jodoh kita siapa. Lagian ngapain dipikirin. Kita kan masih muda, siapa tahu nanti kedepannya kamu lebih beruntung dariku. Hidup itu kan berputar. Kadang dibawah, kadang diatas. Lihat sisi positifnya, kamu itu juara kelas sedangkan aku nggak, kamu dari keluarga yang berada, sedangkan aku..Bundamu perhatian banget sedangkan aku ..saudara2 ku banyak, kadang beberapa anak-anak Ibuku terbengkalai. Jadi Tuhan itu Maha Adil kok. Yang harus kita lakukan adalah terus belajar, belajar dan belajar.”
“ooohh…Dira, kamu temenku yang bikin hatiku adem..”
Advertisements

Dari Hati

Dari hati aku bekerja dengan keras
Bukan sekedar materi
Namun kepuasan yang kudapati
Dari hati aku berjuang menerjang hidup ini
Kadang kusuka kadang tidak
Ku hanya mengikuti irama kehidupan yang sudah digariskan
Dari hati aku menolong sesama
Bukan meminta untuk dipuji
Bukan mengharap malaikat akan mencatat
Hanya sekedar hati berbicara kemanusiaan
Dari hati aku menulis
Ditemani radio kecilku dan sebuah pensil baru
Rindu akan kesenangan menoreh kata-kata di atas kertas
Rindu akan suasana hiruk pikuk  dan kesunyian di luar sana
‘tuk jadikan itu sebuah inspirasi
Dari hati aku berdoa
Memohon kepada Sang Pencipta
Mengubah diriku menjadi pribadi yang lebih bijaksana
Ikhlas dan mensyukuri yang sudah ada

Kakek dan Tongkat Tua

Di hari yang cerah itu
Tak tampak awan yang menemani langit
Hembusan angin kian terasa di raga
Pepohonan seakan menyambut uluran angin itu
Namun di kejauhan tampak sosok berambut putih
Dan tongkat berwarna coklat
Kudekati dengan langkah pasti
Kuyakin ia adalah seorang kakek dengan tongkat tuanya
Kata-kata yang keluar dari bibirnya
Sungguh membuat hati terasa sejuk
Seperti cerahnya pagi ini
Dan sambutan angin yang tak henti menyapa
Bukan tujuan mengemis
Bukan tujuan meminta belas kasihan
Namun ia adalah seorang kakek
Yang menanti cucunya yang telah lama meninggalkannya

Bimbang

Cerita lama yang dulu terukir
Kini masih membekas dipikiranku
Banyak hal yang kulalui
Banyak rintangan yang kuhadapi
Saat ini yang ada dibenakku
Masih mencari yang dulu sempat hilang
Bukan hanya materi
Tapi kenyamanan di hati
Sedih, senang, susah
Aku rasakan
Letih, lelah, lemah
Aku lalui
Dorongan orang tua dan saudara
Serta hadirnya sahabat yang memberikan spirit
Menyelimuti asa yang sudah memudar
Karena bimbang akan kemauan dan cita-cita

Luka Lama

Aku tak tahan
dengan apa yang kualami sekarang
Namun jalan yang kulalui telah kugenggam
Saat-saat harap dan doa menyelingi bagian ragaku
Didadaku…dihatiku…didetak jantungku
Masih ada sisa rangkaian angan-angan
yang tak mungkin kudepakkan
Sebuah impian yang ‘kan menjelma
Langkah-langkah yang tak pasti menyatu menjadi satuApakah semua itu ‘kan tiba dan hadir di hati kecilku
Kucoba…kucoba…dan kucoba
Tapi kutak bisa menahan gejolak di asa
Hanya mimpi-mimpi yang selalu ada dibenakku
Satupun tak bisa kulepas

Pagi berganti siang
Siang berganti malam
Malam kembali berganti pagi
Waktu bergulir tanpa henti
Sampai-sampai kutak dapat menggapainya kembali
Sudah tiba saatnya aku hapus luka lama dan kembali ceria

Berpikir

Aku melangkah tak tentu arah
Tujuan tak jelas
Tatapan mata dunia menggilas
Saat jalan cerita dongeng tak dapat dilalui
Hanya ada kepastian yang dapat kugapai
Sadar bahwa diriku banyak pilu
Seakan semua ingin menerjangku
Posisi kian morat marit
Kegalauan yang mungkin menghampiriSatu proses yang nanti akan datang
dan yang mungkin terjadi akan terjadi
Aku tak mau berharap banyak lagi
yang datang hanyalah kekecewaan

Disitu aku berpikir
Satu makna yang dapat bisa mengubahku
Terkadang aku tak tahu diriku
Tetapi aku harus berdiri melawan semua itu

Harapan

Dalam hidupku
kurasakan satu hal
yang tak dapat kupungkiri
Namun jauh untuk ku genggam

Binar mataku tak dapat berbohong
Hanya satu hal yang kuharap
Jika mampu untuk kuraih
bahwa aku mengharapkanmu

Kumalu ‘tuk berucap
Kuragu ‘tuk melangkah
Kutakut ‘tuk berharap

Sekian lamanya
Jalinan kisah kasih
Satu hadir dan kunjung jua
Ada kalanya hambatan menghalangi
Ku takkan putus asa
Hanya untuk mengharapkanmu