Citruk Pembawa Rezeki

Bulan Ramadhan menjadi bulan yang mempunyai kesan tersendiri bagi saya. Selain puasa itu wajib hukumnya bagi yang menjalankan, silaturahmi yang sempat terputus kini mulai terjalin dengan adanya buka puasa bersama, lagu-lagu rohani yang tak biasanya terdengar di tempat berkumpulnya banyak orang seperti mall kini mulai terasa dan sederet moment yang penuh makna hadir di bulan Ramadhan ini, tak hanya saya, orang lain pun tentu ikut merasakannya pula.

Di tiap tahunnya saya ingin merasakan hal yang berbeda dari sebelumnya, kali ini saya ingin bisa berbuka puasa dan sholat tarawih di masjid berbeda di seputaran Jakarta Timur, mengapa? karena lokasi itu tak jauh dari tempat saya tinggal, selain untuk efisiensi waktu, juga untuk keamanan mengingat sholat tarawih dilakukan sampai pukul 20.30 s/d 21.00. Di salah satu masjid yang saya datangi, sebelum adzan magrib, ada seorang ibu yang mengajak saya untuk mengobrol sejenak. Ia bercerita keadaannya dan keluarganya. Singkat cerita Ibu Nok, biasa ia dipanggil, yang berasal dari Tasikmalaya ini berjualan snack asli tempat ia berasal yaitu citruk, basreng, seblak, sagu, rengginang, dll. Sebenarnya ia masih memiliki suami tetapi kondisi yang tak memungkinkan menjadikan sang suami tak bisa bekerja lagi. Dan kelima anaknya belum semua mapan, dua diantaranya masih bersekolah, terkadang ia juga memberikan cucu-cucunya uang jajan. Karena saya iba, saya memberikan pinjaman modal untuknya. Ya, walau nantinya uang saya tak dikembalikan, toh saya pikir tak apalah untuk sedekah di bulan Ramadhan ini. Ia juga bercerita, ia selalu berdoa kepada Allah, ia tak butuh apa-apa, ia hanya butuh modal untuk berjualan. Lokasi berjualan Bu Nok ada di depan Sarinah, Thamrin, pasar Tanah Abang, CFD. Citruk lah yang paling enak karena ini yang sering terucap olehnya, begitu juga sagu dan rengginangnya.

Bersyukurnya dagangan ibu yang berusia sekitar 60 tahun ini laris manis, meski sempat ada kendala keuangan, namun saya juga memberikan saran kepadanya bagaimana cara memutar modal agar uang yang dipakai tak serta merta habis begitu saja. Pesan yang ingin saya sampaikan bukan hanya sekedar memberikan sedekah atau bantuan modal saja, namun disisi lain, sebagai individu haruslah berbagi saran atau masukan yang berharga untuk orang lain agar bermanfaat untuk kehidupannya. Meskipun mereka hidup dibawah rata-rata namun mereka bisa diajak berdiskusi dan mau mendengar masukan-masukan dari kita. Dan tak kalah pentingnya, kita punya Allah yang Maha Kaya, sudah sepatutnya kita sebagai manusia memohon kepadanya, jika kita mempunyai kesulitan, dengan mendekat kepada-Nya persoalan hidup kita dimudahkan, insya Allah.

Semoga dengan datangnya bulan Ramadhan kali ini menambah pengetahuan dan pengalaman yang berharga, menebar inspirasi dan kebaikan kepada sesama dan kisah Bu Nok ini mengingatkan saya untuk selalu bersyukur masih diberikan kesehatan, masih bisa berkarya dan diberikan rezeki untuk berbagi dengan sesama. Jika berkenan, teman-teman bisa menghubungi saya untuk memesan snack yang saya sebutkan diatas tadi atau bisa menanyakan nomor telepon Bu Nok, email saya : indy.sumaryo@gmail.com

Advertisements

Wedding Singer

Tak kulewati saat waktu sedang lengang
Menuliskan sebuah lirik
Seraya bibir bergerak ucapkan sebuah kalimat nan indah
Diiringi musik minus one kuikuti setiap alunan iramanya
Kepala mengangguk tanda bersenandung ria

Saat aku berikan rekaman suara itu
Sahabat lama terkesan karenanya
Dia bertanya mengapa kau tak menjadi wedding singer saja
Sempat kuberpikir akan lirik-lirik melankolis
Seolah suaraku tertutup lirik-lirik romantis

Tibalah waktunya unjuk kebolehan diatas panggung nan gemilau
Pertama kalinya aku tampil di muka umum, tegang dan kaku
Terdengar tepuk tangan yang gemuruh seolah menutupi semau itu
Inilah kado pernikahanmu, sahabatku.

Tak Kenal Lelah

Di dalam masjid nan agung duduk seorang ibu paruh baya
Dengan membawa dua tas besar
Seraya menjajakan dan mengajak bincang-bincang dan canda ria
Satu, dua bahkan puluhan orang mengerumuni

Hanya untuk melihat dan membeli
Bahkan ada yang menawari hal yang serupa
Lelah tak terasa di kala siang nan terik
Dahaga hilang lapar pun sirna

Nampak raut wajah sendu
Berubah menjadi berseri-seri
Tatkala seseorang memberikan sesuatu berharga
Kini ia bersemangat untuk terus melanjutkan hidup demi suami dan cucu

Celoteh Anak

Duduk diantara orang tak dikenalΒ 
Melihat sekilas raut wajah kebahagiaan
Pembicaraan nan seru dan menggelitik
Seakan ingin bergabung kala itu

Sekumpulan anak bermain kian kemari
Tertawa lepas dan sesekali terlihat mengernyitkan dahi
Tanda kekesalan mulai datang
Tangisan pun mulai terdengar dari kejauhan

Kekesalan hilang, kini kegembiraan nampak menghiasi mereka
Celoteh mulai bersahutan
Sesekali mereka berlarian dan mengakhiri malam itu dengan sempurna

Mencari Keadilan

Pagi hingga malam

Tanpa letih dan merasa lapar

Mencoba mengisi kekosongan

Riuh dari kejauhan memanggil

 

Saat bicara tak ditanggapi

Berjalan lambat tanpa arti

Hanya secarik kertas bekal siang ini

Menjadi puisi menemani sampai nanti

 

Dilema terbayang di pikiran

Hanya satu yang dapat ia pegang

Mencari keadilan hingga kaki melangkah ke suatu tempat

Gedung yang mewakili rakyat

Hijau muda nan terang benderang

 

Ia tak sendiri rupanya

Berkawan lima tak beralas kaki

Memegang satu demi satu perlengkapan

Dalam satu jiwa mereka ingin keadilan ditegakkan