Ketika Raga Kian Melemah, Karya Kian Merambah

Setiap hari saya bekerja mulai hari senin hingga sabtu siang. Rutinitas yang saya jalani sehari-hari yang tak terasa sudah melewati tahun ketiga. Aktivitas pekerja kantoran yang menguras tenaga, pikiran dan juga waktu, terlebih jarak dari tempat tinggal menuju tempat bekerja sangatlah jauh yaitu membutuhkan waktu sekitar 2 jam lebih. Ya, sejak masih duduk di bangku 1 SMP saya terbiasa menggunakan jasa angkutan umum, meskipun saat ini banyak aplikasi jasa angkutan berbasis online, saya masih setia menjadi angkoters. Di rentang waktu selama 3 tahun itu, tentunya saya pernah mengalami puncak kejenuhan. Dimana puncaknya itu ketika pekerjaan dibawah tekanan yang sangat tinggi dari berbagai lini. Disamping itu saya mengikuti berbagai macam kegiatan di luar kantor. Banyak komunitas yang saya ikuti kala itu, selain memiliki banyak teman, saya juga mendapatkan pengalaman serta pengetahuan baru yang sayang untuk dilewatkan (baca juga http://trivia.id/post/7-alasan-para-traveler-traveling-ke-luar-negeri)

sleep

*) di sela kesibukan aku beristirahat sejenak guna memulihkan raga yang sedang mengalami sakit

http://www.salon.com/2014/07/06/my_motherhood_identity_crisis_from_internet_ceo_to_room_parent/

Banyak hal yang saya lakukan ketika jam kerja berlangsung, mulai dari memejamkan mata sejenak, berjalan mengelilingi area kantor bahkan berbicara dengan orang tak dikenal yang tentu tak jauh dari lokasi kantor tempatku bekerja *). Ini dimaksudkan agar pikiran menjadi jernih kembali. Memulai, melanjutkan sampai mengakhiri pekerjaan sesuai yang kita kehendaki tanpa melanggar aturan perusahaan. Beristirahat sejenak bukanlah suatu hal yang melanggar, bukan? melakukan hal yang tak biasa di tengah rutinitas patut teman-teman coba, senyaman mungkin 🙂

Kian hari pekerjaan tiada henti menghampiri, terlebih kini banyak para klien yang mempunyai peraturan-peraturan baru yang membuat pekerjaan saya semakin bertambah sehingga waktu yang dikeluarkan tentunya semakin lama. Tekanan demi tekanan terus kuhadapi, lelah seakan tak bertepi, namun di sela waktu seperti itu saya mencuri waktu untuk mengemil sejenak walau tubuh ini memiliki berat yang tak berbobot alias kurus 🙂 *)

cemilan

*)terkadang aku menyediakan cemilan di meja kerjaku

http://vickyfahmi.com/2015/11/15/makanan-kecil-untuk-kantor/

Menyadari berat badan yang semakin menurun, ditambah batuk dan flu yang tak kunjung pulih,  saya memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter. Setelah menjalani serangkaian tes di rumah sakit, dokter mendiagnosa aku terkena penyakit yang berhubungan dengan paru-paru. Tak lama orang tua saya mengetahui akan hal ini, terlebih ibu yang terlalu memikirkan keadaan saya. Selama ini begitu besar pengorbanan orang tua, ibu saya, mulai dari menyiapkan sarapan untuk ke kantor sampai menemani saya check up ke rumah sakit selama berbulan-bulan lamanya, bapak saya yang sampai saat ini mengorbankan tenaga dan waktu demi anak bungsunya ini. Hingga detik ini,  saya merasakan doa-doa yang selalu dipanjatkan olehnya membuat saya kuat dan bersyukur atas semua yang telah  saya lewati ini. (Baca juga http://trivia.id/post/kutipan-berikut-menggambarkan-betapa-hangat-dan-akrab-sosok-ayah-dan-anak-perempuan )

Ada satu komunitas yang sejak lama saya cari lewat internet, pucuk dicinta ulampun tiba segera saya menghubungi nomor kontak yang tertera di salah satu fanpage di media sosial ternama. Lalu mulailah saya bergabung di komunitas tersebut dan berkumpul dengan teman-teman baru. Banyak hal yang saya dapatkan, bertemu dengan orang-orang yang memiliki kesenangan yang sama itu adalah nikmat. Ditambah lagi, kenal dengan salah satu teman yang tak sengaja mengajak saya untuk bergabung di komunitas lain yang sifatnya sosial. Tentu saja, uang tak masuk dalam pikiran saya kala itu, niat untuk membantu sesama dan mencoba tantangan baru.

Berawal dari sinilah saya menemukan sesuatu yang sesuai dengan jiwa saya, ya bisa jadi itu dinamakan passion, passion itu melakukannya dengan suka cita tanpa dibayar sekalipun, orang lain menilai  saya melakukan dengan baik, saya juga rela berkorban uang, energi dan waktu agar menjadi yang terbaik di bidang itu.

Ketika  saya mengalami sakit, namun ada jalan lain yang menghampiri, ya saya yakin ini sudah diatur oleh Allah. Jika boleh saya menoleh waktu ke belakang, saya berusaha mencari satu komunitas yang saya senangi, lalu bertemu teman dekat dan saat itulah saya menjadi bagian dari mereka, hingga detik ini saya menulis. Membaca dan menulis rutin saya lakukan, tak jarang saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke toko buku, membaca bahkan membeli buku yang saya sukai. Berkenalan dengan orang baru di sana juga wajar dilakukan, siapa sangka cinta bersemi di toko buku 🙂

afternoon-coffee

*) kegiatanku di luar pekerjaan, menulis dan membaca

http://www.panevis.com/2012_04_01_archive.html

Di toko buku bukan hanya membaca yang bisa dilakukan, selain mendapatkan referensi buku terbaru, berinteraksi dengan orang-orang sekitar juga perlu kita coba, tak jarang saya bertanya kepada orang tak dikenal, misalnya buku apa yang mereka baca di waktu senggang, seberapa sering membaca buku dalam sehari atau berapa kali dalam sebulan membeli buku yang disukai. Banyak pertanyaan lainnya yang saya lontarkan (baca deh http://trivia.id/post/buat-kamu-yang-hobi-menulis-7-cara-dewi-lestari-menulis-berikut-ini-akan-membantumu-mendapatkan-semangat-dan-inspirasi )

Sakit yang saya derita selama berbulan-bulan dengan pekerjaan yang kian bertambah seiring tekanan yang bertambah pula, membuat raga ini kian lemah, setiap hari diliputi rasa sakit dan ketakutan. Takut jika hidup saya tak akan lama lagi. Jika kita merasakan raga tak enak dan tak nyaman untuk digerakkan, jalan satu-satunya menyerahkan kepada-Nya, meminta petunjuk-Nya dan memohon agar keputusan terakhir yang diambil adalah jalan yang terbaik serta dimudahkan segala sesuatunya. Meminta doa restu dari orang tua patut kita lakukan, walau bagaimanapun kondisinya tak mengubah pendirianku untuk menggapai kebahagaian yang sesungguhnya.

bookstore

*)sesibuk apapun, saya meluangkan waktu ke toko buku

http://www.ggs-interior.com/index.php/client/details/181

Setelah keputusan yang saya ambil berjalan dengan sempurna, banyak peluang yang kudapati, proyek-proyek menulis pun membanjiri. Sambil menyelam minum air, sambil saya belajar menulis yang baik kemudian saya menerima tawaran dari berbagai situs di internet. Tak hanya proyek menulis, saya juga senang mengikuti kompetisi blog yang tersebar di seluruh Indonesia. Meskipun tak dipungkiri tujuan mengikuti kompetisi itu adalah untuk mengejar uang, namun pengalamanlah yang sungguh berharga, dari sanalah kita belajar supaya menjadi lebih baik lagi. Tak kalah pentingnya, bertanya dengan orang-orang yang ahli di bidangnya dan meminta masukan kepada teman-teman terdekat.

Tentu ini tak luput dari doa dan dukungan orang-orang terdekat, walau berbagai macam kondisi tak memihak kepada kita. Saya yakin jalan yang ditempuh ini sudah menjadi bagian dari hidupku. Sakit bukanlah penghalang untuk menggapai impian, ikuti kata hati, jalani yang membuat kita nyaman dan mendekatlah kepada-Nya.

freelance2

*kini menjadi freelancer adalah pilihanku

http://www.forbes.com/sites/michaelthomsen/2015/08/24/will-unionizing-gawker-and-vice-help-freelance-writers-earn-a-living-wage/#640efc0027a3